Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2015

TRADISI BEGALAN DI DESA WATUAGUNG KABUPATEN BANYUMAS

TRADISI BEGALAN DI DESA WATUAGUNG KABUPATEN BANYUMAS
Uraian Kondisi Desa
Dilihat dari letak geografisnya Tradisi Begalan ini berada di dusun Karangjoho, desa Watuagung, kecamatan Tambak, kabupaten Banyumas. Dusun Karangjoho berada di desa yang di apit oleh beberapa dusun lainnya ,seperti dusun Karang Wangkal, Cunthelan, serta Gandhik. Posisi Tofografi tradisi ini, keadaan desa Watuagung beupa pegunungan dan perbukitan atau dataran tinggi. Keadaan penduduk desa Watuagung rata-rata berprofesi sebagai petani,pedagang, serta perantau.
Deskripsi dan Sejarah Tradisi Begalan
Tradisi Begalan merupakan tradisi atau jenis kesenian yang dipentaskan dalam rangkaian Upacara Perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Dalam Bahasa jawa Begal berarti rampok atau Perampokan. Upacara Begalan dilaksanakan apabila calon pengantin pria merupakan Putra Sulung. Tradisi Begalan berisi petuah-petuah atau kritikan untuk calon pengantin dalam mengarungi hidup rumah tangga yang disampaikan dengan gaya humor.
Sejarah Begalan ada beberapa versi salah satunya ialah jaman dahulu Adipati Banyumas mempunyai Putra sulung yang bernama Pangeran Tirta Kencana. Ngunduh mantu Putri Bungsu Adipati Wirasaba yaitu Dewi Sukesi. Setelah melaksanakan upacara pernikahan kedua pengantin Kembali ke Kadipaten Banyumas. Setelah melewati sungai Serayu, ditengah perjalanan mereka dihadang oleh para begal. Terjadilah pertempuran antara para begal dengan pengawal kadipaten. Akhirnya para begal dapat dikalahkan oleh pengawal Kadipaten. Lalu mereka menceritakan kejadian itu kepada sesepuh kadipaten banyumas. Sejak kejadian itu leluhur rmemberi wangsit agar melaksanakan tradisi begalan ini dalam upacara pernikahan supaya terhindar dari marabahaya. Tradisi begalan di laksanakan juga di daerah lain, seperti Purbalingga, dan Cilacap.
Pelaku dalam tradisi Begalan
Begalan merupakan Kombinasi antara seni Tari dan seni tutur atau seni Lawak dengan iringan Gendhing. Tarian begalan dibawakan oleh 2 pemain pria yang dilakukan berpasangan. Surantani adalah seorang yang membawa Brenong Kepang (PeralatanDapur) atau sebagai korban Perampokan atau yang dibegal. Sedangkan Surandenta adalah seorang yang membawa Pedang Wlira atau yang menjadi Pembegal.
Uborampe Tradisi Begalan
Uborampe dalam tradisi begalan yaitu brenong kepang yang dipikul oleh Surantani. Brenong Kepang berupa berupa peralatan dapur, seperti :Ian, Ilir, Cething, kukusan, Centhong, Kukusan, Irus, Siwur, Kalo (Saringan ampas), Wangkring, Pikulan, ataumbatan. Sedangkan Surandenta membawa Pedang Wlira.
Proses pelaksanaan Tradisi Begalan
Kedua pemain pria menari sambil membawa brenong kepang yang dibawa oleh Surantani dan Surandenta membawa Pedang Wlira sebagai Pembegal. Selanjutnya mereka membawakan dialog dengan gaya jenaka yang isinya berupa petuah-petuah penting bagi kedua mempelai atau penonton. Pentas Kesenian ini diiringi dengan gendhing-gendhing banyumasan seperti : ricik-ricik banyumasan, eling-eling banyumasan, dan lain-lain. Usai pertunjukan Brenong kepang diperebutkan oleh penonton yang biasanya dilemparkan oleh pemain begalan.
Makna Simbolik Peralatan Tradisi Begalan
Pada dasarnya Tari Begalan adalah tarian rakyat yang menggunakan peralatan-peralatan (properti) atau brenog kepang yang memiliki makna simbolis yang berguna bagi kehidupan masyarakat.
Makna Perlengkapan yang digunakan saat upacara Begalan :
Pikulan atau mbatan
Adalah Alat pengangkat brenong kepang. Alat ini terbuat dari bambu yang melambangkan seorang pria yang akan berumah tangga harus dipertimbangkan dahulu, ketika mencari calon istri harus dipertimbangkan bibit,bobot, dan bebetnya.
Pedang Wlira
Adalah Alat yang digunakan sebagai pemukul oleh Surantani dari pihak pengantin wanita yang menggambarkan seorang pria yang bertanggung jawab , berani menghadapi segala sesuatu yang meyangkut keselamatan keluarga dari ancaman bahaya.
Brenong Kepang
Adalah peralatan dapur yang dibawa oleh Surandenta meliputi :
Ian
yaitu Alat untuk angi nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Menggambarkan  bumi tempat kita berpijak.
Ilir
yaitu kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Menggambarkan seseorang sehingga dapat mengambil keputusan yang bijak saat sudah berumah tangga.
Cething
Yaitu tempat nasi yang terbuat dari bambu. Maksudnya bahwa manusia hidup di masyarakat tidak boleh semaunya sendiri.
Kukusan
Yaitu Alat untuk menanak nasi yang terbuat dari Anyaman bambu yeng mempunyai arti bahwa seorang yang sudah berumah tangga harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup semaksimal mungkin.
Centhong
Yaitu alat untuk mengambil nasi pada saat di angi yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Maksudnya seorang yang sudah berumah tangga mampu introspeksi diri sendiri, sehingga ketika mendapatkan perselisihan antara kedua belah pihak dapat terselisihan dengan baik.
Irus
Yaitu alat untuk mengambil dan mengaduk sayur yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa . maksudnya ialah seorang yang sudah berumah tangga hendaknya tidak tergiur atau tergoda dengan pria atau wanita lain yang dapat mengakibatkan retaknya hubungan rumah tangga.
Siwur
Yaitu alat untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa yang masih utuh dengan melubangi dibagian atas dan di beri tangkai. Siwur merupakan kerata basa yaitu asihe aja diawur-awur artinya orang yang sudah berumah tangga harus dapat mengandalikan hawa nafsu, jangan suka menabur benih kasih sayang kepada orang lain.
Kalo atau Saringan ampas
Yaitu alat untuk menyaring ampas yang terbuat dari anyaman bambu. Artinya bahwa setiap ada berita yang datang harus disaring atau harus hati-hati.
Wangkring
Yaitu pikulan dari bambu. Filsafatnya adalah didala, menjalani hidup ini berat ringan, senang susah hendaklah dipikul bersama suami dan istri.

Kamis, 25 Desember 2014

KESENIAN COWONG

DESA MAWA CARA NEGARA MAWA TATA mungkin itulah kata-kata atau Istilah yang cocok untuk di terapkan dalam menyikapi perbedaan antara Desa yang satu dengan Desa yang lainya di skitar Wilayah Karsidenan Banyumas Jawa Tenggah,seperti contoh di Desa Ayamalas Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap ini pada setiap Musim kemarau mulai tiba maka para Sesepuh Desa yang Hoby dengan kesenian langsung mengadakan kesenian yang di Sebut Cowong.
Cowong yaitu sebuah Kesenian yang menyerupai Boneka terbuat dari Batok kelapa dan bambu di dandani menyerupai seorang Putri dari kerajaan,permainan Cowong ini hanya dilaksanakan setiap musim kemarau saja serta Kesenian Cowong ini tidak pernah di tanggap atau di sewa oleh orang yang mempunyai Hajatan karena kesenian Cowong ini dilakukan untuk meminta hujan pada sang Kholik.
Kesenian Cowong ini Aneh dan Unik tapi sangat menyenangkan krn hampir seluruh Masyarakat menonton kesenian ini bahkan ada pengunjung yang dari luar Desa ikut meramaikanya,kesenian Cowong ini biasanya di laksanakan pada setiap musim kemarau sudah mau selesai tp belum ada tandan-tanda hujan mau turun Konon masyarakat Desa menyebutnya Cowong sebagai Hiburan utk meminta hujan pada sang Maha Kuasa.
Sebelum hiburan Cowong di mulai para Pemain Cowong melaksanakan Sowan atau meminta ijin pada tempat-tempat yang di anggap kramat oleh Masyarat Desa agar tidak terjadi masalah dan segera di turunkan hujan dari langit (memang itu hanya mitos percaya atau tidak terserah pada para pembaca),setelah melaksanakan Sowan para pemain baru berkumpul di tempat dimana akan dilaksanakan hiburan Cowong tersebut.
Para pemain Cowong sudah berkumpul di antaranya beberapa orang penabuh gamelan,Sinden/penyanyi untuk mengiringi permainan Cowong dan tidak kalah pentingnya para pemain inti untuk memainkan Cowong tersebut yang di ikuti 4 sampai dengan 6 orang serta beberapa alat seperti Tangga dan sesajenan dimana nanti di gunakan oleh para Pemain Cowong saat sudah kesurupan (mendem red).
Kesenian Cowong segera dimulai karena karena semua para Pemain dan Pendukung sudah berkumpul para Penabuh gamelan mengerjakan tugasnya sesui lagu-lagu yang di nyanyikan oleh sang Sinden sedangkan para Pemain melaksanakan Aksinya dengan mengankat sebuah seperti Boneka yang terbuat dari batok kelapa dan bambu serta di Hiasi dan di dandani dengan pakaian seperti Putri kerajaan,nyanyian lagu-lagu Islami dan suara gamelan terus terdengar dengan merdu mengikuti langkah para Pemain Cowong tersebut keanehan pun mulai yaitu para pemain mulai Kesurupan atau mendem mulai dari yang lucu hinga yang seram (memakan ayam yang masih hidup).
Kesenian Cowong ini biasanya dilaksanakan selama satu minggu berturut-turut dan pada malam terahir kesenian Cowong ini dilaksanakan maka para pemain dan seluruh pendukung akan mengelilinggi Kampung dari rumah-kerumah utk meminta sumbangan seiklasnya untuk menganti biaya pelaksanaan kesenian Cowong tersebut,Aneh dan tidak masuk akal tapi itulah yang terjadi entah memang sudah waktunya Hujan ataukah Akibat dari kesenian Cowong ini dilaksanakan untuk meminta hujan tapi pada kenyataanya Kesenian Cowong selesai dilaksanakan langsung terjadi mulai turun hujan.
Begitulah cara Warga Masyarakat Desa Ayamalas Kecamatan Kroya Kabupaten cilacap menyikapi setiap datangya musim kemarau dengan melaksanakan Kesenian yang Konon sudah turun temurun dari Nenek Moyang Desa Ayamalas.


http://elingmas.blogspot.com/2010_06_01_archive.html

Abon Lele Majenang Tembus Pasar Ekspor

abon lele sangkuriang

Ikan lele ternyata tak hanya dapat diolah sebagai menu masakan berkuah atau digoreng dengan bumbu sambal pedas. Di tangan Murti Rahayu, daging lele dapat dibuat abon dengan nilai ekonomi yang menggiurkan. Bahkan, abon lele buatannya kini mampu menembus pasar ekspor.
Awalnya coba-coba. Ternyata rasanya tak kalah sama abon sapi. Banyak orang suka,” kata Murti, pengusaha kecil asal Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, akhir April 2010.
Selain dikenal sebagai daerah pertanian yang subur, wilayah Majenang sejak lama juga dikenal dengan perikanan daratnya. Air yang melimpah mendukung pengembangan usaha mina tersebut. Salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan warga setempat adalah lele.
Namun, melimpahnya lele kerap tak ditunjang pemasaran dan kestabilan harga. Banyak petani lele pun jatuh bangun.
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi Murti yang juga menjadi Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Majenang. Pada pertengahan tahun 2007, dia terpikir membuat penganan olahan dari lele yang dapat dijual kemasan dan punya nilai ekonomis tinggi.
”Bayangan saya yang pertama adalah mengolah lele menjadi abon. Daging sapi saja bisa jadi abon, kenapa lele tidak,” tutur ibu tiga anak ini.
Kebetulan, di rumahnya, sejak lama Murti membuka warung lesehan dengan menu aneka masakan ikan air tawar. Jadi, mengolah lele bukan hal baru.
Dibantu putri bungsunya, Indira K Paramita (29), Murti pun bereksperimen abon lele. Percobaan awal ini tak sepenuhnya berhasil. Sulit mengurangi tingginya kandungan minyak pada abon lele. Abon pun cepat tengik atau basi.
Selang beberapa hari, dia menemukan mesin pres tangan untuk mengurangi minyak. Sejak itu Murti berani menawarkan abon lele buatannya kepada teman dan tetangganya. Respons mereka positif. Abon lele Murti tak kalah dengan abon sapi.
Murti pun kian percaya diri. Tiga bulan setelah eksperimen, Murti mulai memasarkan abonnya yang bermerek Nazelia itu ke supermarket di Majenang dan Cilacap. Respons pasar lumayan. Dalam tiga hari abon lele itu ludes. Permintaan pun mengalir. Dia menjual abonnya seharga Rp 13.000 per satu kemasan plastik seberat 1 ons atau 100 gram.
Murti kian serius menekuni usaha abon lele. Selain celah pasar yang ada, usaha abon lele tak membutuhkan modal yang besar pada tahapan awal. Hal ini tak terlepas dari relatif murahnya harga ikan lele di Majenang.
Harga ikan lele hanya Rp 11.000 per kilogram (kg). Setiap kilogram menghasilkan 3 ons abon. Tiap 1 ons dijual Rp 13.000 sehingga keuntungan kotor tiga kali lipat. Keuntungan itu dikurangi biaya minyak goreng dan plastik kemasan. ”Untung bersihnya 30-50 persen,” ungkap Murti.
Selain dagingnya, kulit lele dimanfaatkan menjadi keripik. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Dari 10 kg lele, hanya menghasilkan sekitar 15 bungkus keripik ukuran 100 gram. Keripik lele ini hanya jadi usaha sampingan Murti.
Tak sulit membuat abon lele. Daging ikan lele dibumbui seperti dendeng dengan ketumbar, merica putih, bawang putih, dan garam serta gula. Setelah direbus dengan bumbu hingga meresap, barulah digoreng kering.
Daging lele dipres hingga seluruh minyaknya keluar dan tersisa serbuk halus kecoklatan. Rasanya manis gurih dengan aroma bawang dan ketumbar yang kuat. Ada pula yang dicampur dengan bawang merah goreng, seperti lazimnya abon sapi.
Abon lele dikemas dalam plastik berlabel. Setiap saat bisa dinikmati. Dengan rasanya yang gurih, abon ini cukup ditaburkan di atas nasi atau ketan hangat sebagai lauk.
Hingga enam bulan pertama, kapasitas produksi abon lele Murti hanya 3 kilogram lele per hari. Namun, seiring permintaan yang terus meningkat dan pemasaran yang kian luas ke kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Semarang, dan Purwokerto, kebutuhan bahan baku lele pun terus bertambah.
Apalagi, setelah dia mampu membeli mesin pres dari Surabaya, Jawa Timur, seharga Rp 2 juta, Murti kian percaya diri memasarkan produknya lebih luas. Dengan mesin baru itu, kualitas abonnya kian tinggi. Saat itu izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan sudah dikantonginya. Sertifikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah menyatakan bahwa abon lelenya halal.
Pada pertengahan 2008, Murti menjadi mitra binaan PT Pertamina Cilacap. Selain membantu permodalan melalui kredit lunak, badan usaha milik negara tersebut juga membantu pemasaran dengan cara memfasilitasi mitra binaannya mengikuti pameran-pameran.
”Saya sangat bersyukur bisa difasilitasi mengikuti pameran. Rasanya tak mungkin kalau ikut pameran sendiri karena biayanya sangat mahal. Buat ongkos transpor, sewa stan, dan akomodasinya tinggi,” ujarnya.
Pameran produk kerajinan usaha kecil yang pernah diikutinya, di antaranya, adalah di Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Keikutsertaan dalam aneka pameran tersebut sangat membantu Murti dalam memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Pernah dalam sebulan dia mendapat kesempatan tiga kali pameran. Selain dapat memperkenalkan produknya, pada saat pameran Murti juga dapat menjual abonnya dalam jumlah lumayan besar.
Sayangnya, langkah kreatif Murti lewat abon lele itu kurang mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat. Jangankan bantuan kredit, fasilitas mengikuti pameran pun tak pernah ada. ”Pernah diajak pameran sampai pemda, tetapi semua biaya kami yang menanggung. Malah tombok. Padahal, katanya sudah ada dana dari APBD. Bukannya kami pelit, tetapi kami ini hanyalah perajin kecil. Toh, kalau produk kami dikenal, yang dapat nama pemda juga,” katanya.
Sejak tahun 2009, produksi abon lele Murti rata-rata per hari menghabiskan 10 kilogram lele atau 500 kilogram lele per bulan. Pasarnya pun kian luas hingga Jakarta, Bandung, dan Denpasar.
Untuk 10 kilogram lele dapat diolah menjadi 3 kilogram abon. Dalam sehari, rata-rata Murti dapat menghasilkan penjualan kotor Rp 300.000-Rp 400.000.
Saat pameran produk-produk khas Nusantara di Jakarta pada pertengahan 2009, produk abon lele Murti dilirik konsumen luar negeri. Salah satunya seorang distributor makanan asal Belanda. Sejak saat itu Murti mulai dapat mengekspor abon lelenya ke Negeri Kincir Angin itu.
Dalam sebulan, rata-rata dia dapat mengekspor 10 kilogram abon lele ke Belanda. Ekspor tersebut dilakukan melalui distributor di Jakarta.
”Daging ikan lele mengandung protein dan rendah lemak sehingga bisa dikonsumsi oleh mereka yang berdiet lemak. Karena itulah, orang dari Belanda itu suka abon lele saya,” katanya.
Sebenarnya, selain dari Belanda, ada permintaan abon lele dari negara lain. Namun, karena belum memahami prosedur ekspor dan modal yang terbatas, dia belum berani mengambil kesempatan tersebut.
Meski demikian, dia sudah sangat bersyukur dengan apa yang diraihnya saat ini. Dia tak menyangka abon lelenya yang dibuat dengan cara sederhana itu kini melanglang buana hingga ke Eropa.
”Jumlahnya, sih, memang belum banyak, tetapi saya sudah sangat senang karena abon lele saya disukai banyak orang, bahkan sampai di luar negeri,” kata Murti. (kompas)

Bernostalgia di Pasar Jajanan Cigobang Majenang

Menyempatkan pulang ke kampung halaman setelah sekian waktu merantau ke negeri orang adalah suatu kenikmatan tersendiri sambil bertemu keluarga juga menikmati suasana kampung halaman yang penuh kenangan di waktu kecil. Apalagi bisa mengunjungi tempat-tempat yang menjadi favorit di waktu kecil bahkan hingga sekarang pun masih jadi langganan kunjungan orang.
Salah satunya adalah “Pasar Jajanan Cigobang” yang terletak di sisi sebelah barat kota Majenang. Kota Majenang sendiri berada di ujung barat selatan propinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan propinsi Jawa Barat. Kalau kita pergi ke Bandung dari arah Yogyakarta lewat jalur selatan ataupun sebaliknya pastinya akan melewati kota ini. Pasar ini sangat mudah diakses, hanya berjarak sekitar 800m dari alun-alun Majenang kea rah barat. Kota kecamatan yang masuk dalam wilayah kabupaten Cilacap ini adalah daerah asal Bupati Cilacap saat ini yaitu Bapak H. Tatto Suwarto. Majenang menjadi cukup menarik karena berlokasi di daerah perbatasan, tidak hanya secara geografis, tetapi juga kultur dan budaya, sehingga terjadilah percampuran antara budaya Jawa dan Sunda, begitupun dengan bahasanya.
1362540533240314358Suasana Pasar Jajanan Cigobang, Majenang (foto: syamsiro)
Pasar Cigobang ini sudah ada sejak jaman dulu, tidak tahu persis kapan pasar ini muncul, tetapi sejak saya masih kecil di tahun 80-an pasar ini sudah ada. Di pasar Cigobang ini kita dapat bernostalgia dengan aneka jajanan tradisional khas majenang dan sekitarnya seperti awug, lopis, ciwel, gatot, intil dan masih banyak lagi berbagai jenis makanan tradisional lainnya. Pasar yang buka hanya di pagi hari mulai selepas subuh dan berakhir sekitar pukul 8 pagi ini menawarkan nuansa yang cukup nyaman buat refreshing sejenak. Sambil berjalan-jalan pagi menikmati udara segar kota Majenang kemudian bisa langsung membeli jajanan buat sarapan. Berbagai jenis lauk pun ditawarkan untuk menu makan pagi, mulai dari bubur, buntil, semur jengkol, mendoan dan lain-lain cukup menggugah selera sarapan pagi anda.
13625407231492008362
Aneka macam jajanan tradisional (foto: syamsiro)
Bagi anda yang mampir singgah di Majenang ataupun sekedar lewat, akan sangat rugi rasanya kalau tidak menyempatkan mampir ke Pasar Cigobang ini. Akses ke pasar ini pun semakin mudah dengan selesainya pembangunan jembatan Cijalu 2 yang menghubungkan wilayang Cigobang ini dengan wilayat barat Majenang seperti Cigaru dan Salebu, sehingga masyarakat dari wilayah barat akan dengan mudah mengakses pasar ini.
13625410441693834663
Jembatan baru Cijalu 2 (foto: syamsiro)
Yuk mari mampir ke Pasar Jajanan Cigobang dan nikmati aneka jajanan tradisional yang pastinya tidak akan membuat anda kecewa, bahkan malah membuat anda ketagihan….

Sintren masih lestari di Majenang

Sintren, itulah nama kesenian tari yang biasa dipentaskan di daerah Jawa Tengah dan pesisir Jawa Barat. Kesenian sintren berlandaskan dari cerita rakyat yaitu kisah percintaan Sulasih dan Sulandana. Karena ayah Sulandana tidak merestui hibungan anaknya, Sulandana menyikapinya dengan pergi bertapa dan Sulasih menjadi penari. Mereka sering bertemu di alam ghaib dengan bantuan Ibunda Sulandana yang meniupkan roh bidadari ke tubuh Sulasih dan memanggil Sulandana yang sedang bertapa supaya menghampiri Sulasih.

Pertunjukan Sintren di Desa Mulyadadi,Majenang,Cilacap
Pertunjukan Sintren di Desa Mulyadadi,Majenang,Cilacap
Pertunjukan sintren di salah satu desa di Kecamatan Majenang menjadi bukti kesenian sintren masih dilestarikan. Pertunjukan tersebut diadakan oleh salah satu warga yang bertempat di pelataran rumahnya. Penari utama sintren adalah perempuan, sedangkan penari laki–laki hanya sebagai pelengkap.
Syarat utama untuk menjadi penari sintren yaitu perempuan yang masih gadis(perawan), hal ini karena menurut cerita masyarakat roh bidadari tidak bisa masuk jika penari sintren sudah tidak perawan lagi.
Pawang segera menjadikan penari sintren secara bertahap, melalui tiga tahap. Tahap Pertama, pawang memegang kedua tangan calon penari sintren, kemudian diletakkan di atas asap kemenyan sambil mengucapkan mantra, selanjutnya calon penari sintren dengan tali melilit ke seluruh tubuh.
Salah satu penari sintren masuk kurungan
Salah satu penari sintren masuk kurungan
Tahap Kedua, calon penari sintren dimasukkan ke dalam sangkar (kurungan) ayam bersama busana sintren dan perlengkapan merias wajah. Beberapa saat kemudian kurungan dibuka, sintren sudah berdandan dalam keadaan terikat tali, lalu sintren ditutup kurungan kembali.
Tahap Ketiga, setelah ada tanda-tdana sintren sudah jadi (biasanya ditandai kurungan bergetar/bergoyang) kurungan dibuka, sintren sudah lepas dari ikatan tali dan siap menari. Selain menari adakalanya sintren melakukan akrobatik diantaranya ada yang berdiri diatas kurungan sambil menari. Selama pertunjukan sintren berlangsung, pembakaran kemenyan tidak boleh berhenti.
Masyarakat masih antusias untuk menonton pertunjukan sintren, dimulai dari anak-anak, pemuda, sampai orang tua. Hanya saja, untuk sekarang ini kebanyakan pemuda menjadi penonton pasif (pasive audience) karena merasa malu untuk ikut menari pada prosesibalangan atau lebih dikenal saweran, dan kebanyakan penonton yang ikut menari ke tengah pertunjukan adalah orang tua.
Uang saweran dikaitkan ke penari
Uang saweran dikaitkan ke penari
Pada prosesi balangan, dinyanyikan lagu pengiring berjudul thole-thole, penonton mewujudkan apresiasi atau rasa terimakasihnya dengan melemparkan uang ke tengah arena pertunjukan atau tempat yang sudah disediakan, biasanya berupa nampan(tampah). Lucunya, uang pemberian penonton yang berupa uang kertas ditempelkan ke baju penari sintren dengan mengaitkannya dengan jarum peniti.
Mungkin dalam benak kita pernah bertanya-tanya kenapa sih kalau sintren harus memakai kacamata hitam, malam hari kok memakai kacamata hitam. Kacamata hitam yang dipakai penari sintren tidak bertujuan untuk sok modernatau sok stylist tetapi bertujuan untuk menutupi mata penari yang terpejam akibat kerasukan roh bidadari. Kacamata hitam juga menjadi ciri khas penari sintren dan menambah daya tarik/mempercantik penampilan.
Kesenian tradisional daerah kita harus tetap terjaga untuk menghindari penjajahan kebudayaan. Apalagi sekarang sedang marak perlakuan klaim kebudayaan dari negara tetangga, apakah kita mau kesenian sintren diklaim oleh negara tetangga? tentunya tidak.
Kesenian sintren masih menjadi salah satu pertunjukan hiburan yang menarik bagi masyarakat Kecamatan Majenang, pada event lebaran September 2010 yang lalu saja ada sekitar empat pertunjukan sintren yang diselenggarakan dalam dua desa.